Rabu, 01 Februari 2012

Cara Memilih dan Faktor Penentu Penilaian Pusaka/Keris

Cara Memilih dan Faktor Penentu Penilaian Pusaka/Keris :
a. Penilaian secara fisik (eksoteri)
1. Wesi (besi) harus yang baik (kandungan karbon sangat kecil) dari jenis yang bermutu
2. Waja (baja) merupakan unsur kekuatan keris. kualitas baja yang baik dapat menembus logam, misal: keris karya Empu Brajaguna.
3. Garap, nilai karya (of working) harus cermat, teliti (digarap baik), tempaan padat tidak akan mudah aus.
4. Pamor, harus yang "Mapan" dan "Dados" artinya bentuk dan tempatnya sempurna.
5. Sepuh (tua), makin tua sebuah pusaka akan makin memancarkan getaran keindahan dan makin berbobot nilainya, misal pusaka jaman Mataram dan sebelumnya.
6. Wutuh (utuh), bilah dan macam ricikan dasar keris sebaiknya utuh dan tidak cacat.
7. Wangun, yaitu bentuk pusaka yang menimbulkan anggapan apakah ia luwes, ramping, serasi, gagah, pideksa, dsb.
8. Guwaya, raut muka, air muka (cemplexion), harus yang cerah (cahaya yang dipancarkan) yaitu sesuatu yang menimbulkan anggapan yang agung, galak, seram, dan lembut yang berupa sifat.
9. Ampuh, terpercaya khasiatnya, dapat diandalkan sebagai senjata bela diri.
10. Mungguh, mutu keris harus seimbang dengan kedudukan sosial si Pemakai.
11. Tangguh, tangguhnya harus "Lempoh" periodisasinya harus jelas, tidak samar-samar.

b. Penialaian secara Non-fisik (isoteri)
1. Sejarah, berkaitan dengan silsilah kepemilikan keris dan historis keampuhannya.
2. Angsar, yaitu suasana dan pengaruh yang ditimbulkan, dapat berupa ketentraman, kedamaian, kesejahteraan, dsb.
3. Tayuh atau tanjek, forum dimaan terjadi "dialog" antara "Isi" pusaka dengan calon pemiliknya atau pemiliknya.

Senin, 30 Januari 2012

Tangguh Surakarta dan Jogyakarta

Tangguh Surakarta dan Jogyakarta baik model maupun garapannya meniru buatan yang sudah ada (mutrani), gaya dan cengkoknya menurut selera para empu yang bersangkutan.

Cara Merawat Keris/Pusaka

Cara merawat keris/pusaka :
1. Dijamasi atau istilah lainnya : nyirami, ngawisi, nyuceni, marangi artinya membersihkan keris.
    Di daerah Yogyakarta, Surakarta, dan Jawa Timur jamasan Pusaka dilakukan pada bulan Suro                 (Muharram).
2. Melumasi dengan minyak pusaka (minyak cendana, melati, kenanga, mesik, zafaron, dll).
3. Menyimpan pusaka, harus memperhatikan :
    a. Di tempat yang aman (jauh dari jangkauan anak-anak) dan sebaiknya di tempat tertutup, seperti lemari.
    b. Di tempat yang terhormat, jangan disembarangan tempat.

Keris mengandung 3 unsur dalam satu wadah

keris mengandung 3 unsur dalam 1 wadah, yaitu :
1. Unsur senjata = materi, benda ; bisa dilihat dan diraba.
2. Unsur seni budaya = nilai estetis ; dapat dilihat.
3. Unsur magis supra natural = faktor X ; tidak dapat dilihat, melainkan bisa dialami dan dirasakan akibatnya.

Ditinjau dari cara pembuatannya Keris dibagi menjadi beberapa macam

1. Keris Ageman, adalah keris yang mementingkan keindahan bentuk lahiriah (eksoteri).
2. Keris Tayuhan, adalah keris yang lebih mementingkan tuah dan kekuatan gaib (esoteri).
3. Keris Pusaka, adalah keris yang mementingkan keduanya.

Bahan-bahan untuk membuat Pusaka/Keris

1. Plat besi
2. Bahan Pamor : a. Plat nikle ; b. Batu meteor (banyak mengandung logam/titanium)
3. Plat baja

proses lahirnya sebuah Pusaka/Keris

1. Pemesanan mendatangi/memanggil Empu
2. Pemesanan menyampaikan pesanan Pusaka yang diinginkan Empu memberi saran
3. Kesepakatan antara Pemesan dan Empu (biaya dan kapan selesai/jangka waktu)
4. Empu menyarankan Pemesan ikut tirakat
5. Empu bersemedi (bertapa) saat bersiap diri secara batiniah sebelum memulai pekerjaan
6. Selamatan (makan bersama)
7. Empu memberikan intruksi kepada panjak, juga sebaliknya.
8. Penyepuhan (sebelum penyepuhan biasanya Empu bersemedi kembali)