Cara Memilih dan Faktor Penentu Penilaian Pusaka/Keris :
a. Penilaian secara fisik (eksoteri)
1. Wesi (besi) harus yang baik (kandungan karbon sangat kecil) dari jenis yang bermutu
2. Waja (baja) merupakan unsur kekuatan keris. kualitas baja yang baik dapat menembus logam, misal: keris karya Empu Brajaguna.
3. Garap, nilai karya (of working) harus cermat, teliti (digarap baik), tempaan padat tidak akan mudah aus.
4. Pamor, harus yang "Mapan" dan "Dados" artinya bentuk dan tempatnya sempurna.
5. Sepuh (tua), makin tua sebuah pusaka akan makin memancarkan getaran keindahan dan makin berbobot nilainya, misal pusaka jaman Mataram dan sebelumnya.
6. Wutuh (utuh), bilah dan macam ricikan dasar keris sebaiknya utuh dan tidak cacat.
7. Wangun, yaitu bentuk pusaka yang menimbulkan anggapan apakah ia luwes, ramping, serasi, gagah, pideksa, dsb.
8. Guwaya, raut muka, air muka (cemplexion), harus yang cerah (cahaya yang dipancarkan) yaitu sesuatu yang menimbulkan anggapan yang agung, galak, seram, dan lembut yang berupa sifat.
9. Ampuh, terpercaya khasiatnya, dapat diandalkan sebagai senjata bela diri.
10. Mungguh, mutu keris harus seimbang dengan kedudukan sosial si Pemakai.
11. Tangguh, tangguhnya harus "Lempoh" periodisasinya harus jelas, tidak samar-samar.
b. Penialaian secara Non-fisik (isoteri)
1. Sejarah, berkaitan dengan silsilah kepemilikan keris dan historis keampuhannya.
2. Angsar, yaitu suasana dan pengaruh yang ditimbulkan, dapat berupa ketentraman, kedamaian, kesejahteraan, dsb.
3. Tayuh atau tanjek, forum dimaan terjadi "dialog" antara "Isi" pusaka dengan calon pemiliknya atau pemiliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar